Lembaga Penelitian
Universitas Tanjungpura

Jalan Daya Nasional, Pontianak 78122 Kalimantan Barat. Email : [email protected]

Universitas Tanjungpura

Gedung Rektorat Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat.

Fakultas Kedokteran

Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat.

Escinano 2012

Tim Penelitian Unggulan Stranas/RUSNAS DIKTI, diundang untuk memberikan kuliah umum di UTM.

DETAIL BERITA LEMLIT

Soroti Hutan Hujan di Jantung Borneo

Diposting oleh : heriyanto | 02 Okt 2012

Tiga Staf Kedutaan Besar Amerika Serikat saat berdiskusi di Kantor WWF Indonesia di Pontianak

 

Hutan hujan di kawasan Jantung Borneo mendapat perhatian khusus dari Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta. Kemarin (1/10) tiga staf Kedutaan Amerika Serikut bertemu sejumlah aktivis lingkungan di Kantor WWF Indonesia di Pontianak mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan hutan tropis di Kalbar.

Gordon S Church tersenyum ramah ketika memulai pembicaraan dalam bahasa Inggris yang sesekali diselingi kosakata Indonesia . “Saya belum lama bertugas di Indonesia. Jadi masih perlu belajar bahasa Indonesia,” ujar  Wakil Kepala Bagian Lingkungan Hidup, Kesehatan, Iptek dan Teknologi, Kedutaan Besar Amerika Serikat itu.

Ini adalah kedatangan kali pertama Gordon ke Pontianak. Begitu sampai di sini dia heran mengapa ada begitu banyak kabut asap di Pontianak. “Dari pesawat saya lihat banyak asap. Pesawat berputar-putar dan saya bisa melihat jelas kabut asap dari atas,” katanya.

Gordon bertanya pada peserta diskusi darimana asal asap tersebut. “Apakah ini dari lahan pertanian atau dari perkebunan?” Tanya Gordon. Lelaki ini sebelumnya memang hanya membaca di media terkait adanya kabut asap ini. Kabut asap juga berimbas pada Negara lain seperti Malaysia dan Singapura.

“Jawabannya, kedua-duanya,” kata Hermayani Putera, Manajer Program Kalimantan Barat, WWF-Indonesia, yang menerima para diplomat Amerika Serikat tersebut. “Pembakaran oleh petani biasanya dalam skala kecil. Sementara pembersihan oleh perusahaan dalam skala besar. Membakar lahan masih dianggap cara yang paling mudah dan murah,” tambahnya. Masalah kabut asap telah terjadi bertahun-tahun tetapi hingga saat ini belum ada solusi untuk mengatasinya.

Dalam diskusi santai itu, berbagai isu dibahas, mulai soal moratorium hingga masalah ekonomi hijau (green economic). “Kami memang memiliki program lokal terkait masalah-masalah lingkungan dan kehutanan.  Jadi kami ingin mendapatkan informasi lebih dalam mengenai pengelolaan lingkungan dan kehutanan di Kalbar,” kata Gordon S Church.

Pria ini menyampaikan sejumlah pertanyaan misalnya mengenai moratorium penebangan hutan primer dan lahan gambut. “Apakah moratorium hutan memberikan dampak bagi pengurangan laju kerusakan hutan?” tanyanya.

Moratorium ini sudah dijalankan sejak 2011 lalu dan berlangsung selama 2 tahun. Moratorium hutan merupakan penundaan dalam menebang hutan, guna menyelamatkan hutan primer dan lahan gambut yang masih tersisa di Indonesia.

Hermayani Putera memberikan jawaban singkat. “Di atas kertas tentu saja moratorium memberi dampak, tetapi di lapangan masih ditemukan penebangan hutan primer dan pembukaan lahan gambut,” katanya.

Di lapangan juga masih ditemukan penebangan hutan mangrove yang tidak memenuhi standar kelestarian lingkungan. Juga pembukaan lahan perkebunan yang merusak lingkungan dan berbagai kasus lain. “Banyak problem lingkungan yang terjadi di lapangan,” ujarnya. 

Penggunaan energi alternatif dan terbarukan juga menjadi bahan yang didiskusikan. Energi alternatif ini dinilai sangat penting untuk mengurangi penggunaan energy berbahan bakar fosil. Menurut Herma, sejumlah lembaga memiliki program pengembangan energi alternatif seperti mikro hidro.

“Kami bekerjasama dengan lembaga lain membuat pembangkit mikro hidro di sejumlah desa di Kapuas Hulu. Terutama desa-desa yang belum memiliki akses listrik. Hasilnya cukup baik. Tetapi masih ada kendala soal pemeliharaan,” katanya.

Gordon S Church juga mempertanyakan peran perempuan dalam upaya pengelolaan hutan di Kalimantan Barat. Pertanyaan ini ditujukan pada Reny Hidjazi, Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan Sumber Daya Wanita (PPSW) Borneo. “Perempuan belum begitu memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan,” ujar Reny Hijzi menjawab Gordon.

Namun, Eko Darmawan dari Flora Fauna Internasional di Kapuas Hulu menampiknya. Dia menyampaikan sejumlah cerita mengenai peran perempuan dalam pengambilan keputusan mengenai pengelolaan hutan di Kapuas Hulu.

“Beberapa waktu lalu kami mengadakan diskusi mengenai usulan hutan desa di Kapuas Hulu. Kebetulan di desa itu, para perempuan di sana menggunakan kayu bakar untuk membuat produk makanan. Jadi para suami di sana harus meminta ijin pada istri mereka untuk mengusulkan hutan desa. Karena nantinya hasil dari keputusan ini akan berpengaruh pada para perempuan itu juga,” ujar Eko Darmawan.

Staf Kedutaan AS yang juga hadir dalam pertemuan itu Tania J Romanoff tertarik mengenai apa saja program yang sudah dilaksanakan di Jantung Borneo (Heart of Borneo). “Menarik sekali untuk mengetahui apa saja yang sudah dilakukan dalam pengelolaan hutan di wilayah tersebut dan apa saja manfaat dari pelestarian lingkungan terhadap,” ujarnya.

Menurut Herma, banyak sekali kegiatan yang sudah dilaksanakan di wilayah HoB. Misalnya peningkatan produksi hasil hutan non kayu. Berbagai produk-produk ramah lingkungan telah dihasilkan dari program ini. “Ada juga pengembangan madu organik dan ikan air tawar di sana,” jawabnya.**

 

 
Total Pengunjung

017880

Diskusi Online
Jurnal Terbaru
Link Terkait
Silakan Tunggu...